A. Pengertian Selamatan
Selametan adalah sebuah budaya yang sudah berlangsung lama di Indonesia. Acaranya biasanya memanjatkan do'a keselamatan dan diakhiri makan bersama.Selamatan menandakan keunikan Islam di Indonesia. Meski sudah ada dan dijalankan sebelum Islam berkembang diIndonesia, selamatan tetap bukanlah bentuk baru dalam ritual Islam. Selamatan sebagai kembang sari peradaban Islam di Indonesia, sesungguhnya punya nilai yang agung dan sangat dibutuhkan oleh manusia.
Kata selamatan sebagaimana banyak bahasa Indonesia lain berasal dari bahasa sarapan, Arab, salamah yang berarti selamat, tidak dalam berbahaya.
Selamatan sendiri, meski sering dikaitkan dengan tradisi sebelum Islam datang dalam berbagai bentuknya, ruwahan, suronan dan sebagainya tetaplah tidak melanggat syari'at Islam itu sendiri.
Bahwa ada bentuk-bentuk yang sinkretisme atau akulturasi budaya yang belum memisahkan atau meninggalkan sama sekali unsur-unsur animism seperti kepercayaan- kepercayaan ruh, mungkin masih ada, mengingat itu semuanya tidak melulu berasal dari dinamisme dan animism. Misalnya setelah dua kepercayaan itu dan sebelum Islam datang, ada agama yang dipeluk oleh orang
Indonesia yaitu Hindu dan Budha.
Namun selamatan sendiri adalah sesuatu yang tidak dilarang dalam Islam dan mempunyai titik temu dalam perbuatan-perbuatan baik yang dianjurkan dalam Islam. Terkait dengan itu, jika melihat perayaan atau adat istiadat atau selamatan di Indonesia maka ada beberapa kategori yaitu :
Selamatan biasanya dilakukan dalam berbagai bentuk dan penanda :
1. Selamatan karena kelahiran, kematian dan pernikahan
2. Selamatan karena adanya suatu peristiwa yang berkaitan dengan hari besar Islam
3. Selamatan karena mempunyai barang-barang baru atau peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya.
www.ensiklopediaislamnusantara.kemenag.com
Selamatan versi budaya Jawa Sunan kalijaga
ejawantahnews.blogspot.com
B. Makna simbolis selamatan dan ritual dalam Islam Jawa
Dalam tradisi Islam Jawa, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan manusia, rata-rata mereka mengadakan ritual selamatan atau wilujengan (memohon keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup). Dengan memakai berbagai benda-benda makanan sebagai simbol penghayatannya atas hubungan diri dengan Allah SWT. Berikut penulis sajikan berbagai makna simbolis dari tradisi ritus selamatan tersebut. (K.H. Muhammad Soklihin 2010:49).
Makna Simbolik dibalik "Sesaji ( sedekahan dan selamatan)" ritual dalam Islam Jawa
Bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna yang mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengewatahan dari penghayatan dan pemahaman akan "realitas yang tak terjangkau" sehingga menjadi "yang sangat dekat". Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlalu terlibat "menyatu" dalam dirinya. Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa dirinya sebagai manusia merupakan tajjali, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan.
Simbol-simbol ritual tersebut diantaranya adalah umbarampe ( piranti dalam bentuk makanan), yang disajikan dalam ritual selamatan (wilujengan), ruwatan dan sebagainya. Hal itu merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Upaya pendekatkan diri melalui ritual sedekahan, kenduri, selamatan dan jenisnya tersebut, sesungguhnya adalah bentuk akumulasi budaya yang bersifat abstrak (Endraswara, 2003:195). Hal itu terkadang juga dimaksudkan sebagai upaya negosiasi spiritual, sehingga segala hal ghaib yang dinyakini berada diatas manusia tidak akan menyentuhnya secara negatif.
Warga Desa Balak Gelar Ritual Tumpeng Sewu
www.kabarbanyuwangi.info.
Ada sebuah hadits shalih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dikemukakan, minyak wangi sejak zaman Rasulullah digunakan sebagai salah satu sarana penyembuhan,
"Diriwayatkan oleh Anas r.a. katanya : Sesungguhnya Nabi SAW pernah datang kerumah Ummu Sulaim dan ingi beristirahat yakni tidur siang dirumahnya. Ummu Sulaim lalu meletakkan hamparan dari kulit sebagai alas tidur Nabi. Manakala disaat tidur itulah baginda mengeluarkan banyak keringat. Ummu Sulaim lalu mengumpulkan keringat tersebut kemudian mencampurnya dengan minyak wangi dan memasukkan kedalam botol-botol kecil. Kemudian Nabi SAW bertanya kepada Ummu Sulaim : "Apa ini?" Ummu Sulaim menjawab : "keringat engkau Ya Rasul. Aku mencampurnya dengan minyak wangiku." (Muttafaqun 'Alaih, Al-Bayan no.1363).
Menurut tafsir hadits, Ummu Sulaim menggunakan campuran minyak wangi dan keringat Rasulullah itu untuk mengobati anak-anak yang sakit. Hadits tersebut memberikan makna penting, terutama tentang dua hal ;
1. Bahwa penggunaan minyak wangi sebagai sarana ritual ( yang dalam hadits itu adalah penyembuhan). Sudah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad pada abad ke-7 M dan Rasulullah mengiyakan.
2. Ummu Sulaim bertabarruk dengan keringat Rasulullah. Hal memberikan gambaran tegas, bahwa tradisi tabrruk kepada orang-orang shalih dan para wali sebagaimana sangat disukai oleh kalangan mistik dan sufi Islam Jawa, oleh Rasulullah tidak dilarang.
www.ritualdantradisiislamjawa.info.com
C. Tatacara Selamatan
Bagi orang bersalah, prosedur penyembelihan dalam tulisan ini, rasa malu dianggap suci, disucikan (sakral) dan oleh wahyu yang luar biasa, karena hal itu menghubungkan rapetnya dengan kejadian kelahiran, dari kelahiran hingga kematian.
1. Dengan kelahiran bayi itu, bayi itu dianggap sebagai pemberian Tuhan, pertama-tama tempat kelahiran Jawa, yang berarti seorang pembawa pesan. Ini adalah utusan dunia, yang memb-
eri kehidupan di dunia (khalifah).
2. Setelah bayi dewasa dan bertemu jodhonya, bersabarlah dengan bantuan bayi. Ini berarti kait, gesekan, gesekan pendapat, karena utusan itu lebih dari satu. Yang satu dan yang lainnya tidak sama, tetapi ada sifat buruk, karena yang satu adalah wanita, tetapi yang lain adalah pria. Namun, jika mereka harus menjadi jojdohnya, kedua belah pihak setuju, diwariskan ke sudut pandang, yang berarti: itu bukan baut, lelucon dan lelucon. Padahal, keduanya telah dimasukkan dalam penentuan. Itu adalah sebuah berkah, itu adalah sebuah lelucon. Itu berarti: Keduanya milik mereka, mereka layak.
Tidak aneh bahwa upacara pelayan adalah cara hidup baru, yang menghubungkan sejarah orang tua, yang berarti koneksi pertama. Karena itu, dalam upacara menantu perempuan, tempat ritual dan upacara sakral samurwut.
3. Upacara ketiga adalah ketika utusan itu menyerahkan Anda otoritas Tuan Purbaningrat, diwariskan oleh ma-ga-ba-tha-nga. Mengundurkan diri saya, minta wakil Anda
C. Tatacara Selamatan
Bagi orang bersalah, prosedur penyembelihan dalam tulisan ini, rasa malu dianggap suci, disucikan (sakral) dan oleh wahyu yang luar biasa, karena hal itu menghubungkan rapetnya dengan kejadian kelahiran, dari kelahiran hingga kematian.
1. Dengan kelahiran bayi itu, bayi itu dianggap sebagai pemberian Tuhan, pertama-tama tempat kelahiran Jawa, yang berarti seorang pembawa pesan. Ini adalah utusan dunia, yang memb-
eri kehidupan di dunia (khalifah).
2. Setelah bayi dewasa dan bertemu jodhonya, bersabarlah dengan bantuan bayi. Ini berarti kait, gesekan, gesekan pendapat, karena utusan itu lebih dari satu. Yang satu dan yang lainnya tidak sama, tetapi ada sifat buruk, karena yang satu adalah wanita, tetapi yang lain adalah pria. Namun, jika mereka harus menjadi jojdohnya, kedua belah pihak setuju, diwariskan ke sudut pandang, yang berarti: itu bukan baut, lelucon dan lelucon. Padahal, keduanya telah dimasukkan dalam penentuan. Itu adalah sebuah berkah, itu adalah sebuah lelucon. Itu berarti: Keduanya milik mereka, mereka layak.
Tidak aneh bahwa upacara pelayan adalah cara hidup baru, yang menghubungkan sejarah orang tua, yang berarti koneksi pertama. Karena itu, dalam upacara menantu perempuan, tempat ritual dan upacara sakral samurwut.
3. Upacara ketiga adalah ketika utusan itu menyerahkan Anda otoritas Tuan Purbaningrat, diwariskan oleh ma-ga-ba-tha-nga. Mengundurkan diri saya, minta wakil Anda

upacara tedak sinten. www.nyonyamelly.com.
Berbeda dengan naskah Wedhatama, karya Mangkunagara IV juga
dikaitkan dengan wayang Pangkur, yang berupa: Kejahatan pembebasan, kenikmatan
mardi siwi, pengetahuan mulia orang Jawa, agama agama.
Yang pertama dan ketiga dari Ki Ag. Meneliti penerapan Fiber
indikasi Kawat Wedhatama: Penting untuk dicatat bahwa biji harus menghilangkan
nafsu makan. Jika itu tidak terjadi maka itu akan baik untuk benih.
Karena itu sangat bagus. Ketika datang ke penyemaian,
berhati-hatilah untuk tidak merasa sadar diri, karena keinginannya akan
mengecewakan, moncong ke atas berikutnya akan berani bagi orangtua mereka.
Ki Ag. Periksa nasihatnya: Jika Anda ingin memiliki seorang
putra, yang tersentuh oleh pengetahuan orang tua, pelajari pengetahuannya:
www.tatacaraselamatan.com.
D. Daftar Pustaka
1). KH. Muhammad Sholikhin, Narasi. 2010. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta : Anggota IKAPI
2). Kamaruudin Amin, M.Asskal Salim. GP.2018 Ensiklopedia Islam Nusantara. Jakarta Pusat : Kementrian Agama RI
3). KAT SOENARTO POERBOSOE HARDJO, SUTONO. 1998 Tata Cara Slametan. Surakarta
D. Daftar Pustaka
1). KH. Muhammad Sholikhin, Narasi. 2010. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta : Anggota IKAPI
2). Kamaruudin Amin, M.Asskal Salim. GP.2018 Ensiklopedia Islam Nusantara. Jakarta Pusat : Kementrian Agama RI
3). KAT SOENARTO POERBOSOE HARDJO, SUTONO. 1998 Tata Cara Slametan. Surakarta
www.sejarahindonesiasmada.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar