Selasa, 05 Februari 2019

Sejarah Selamatan




A. Pengertian Selamatan

    Selametan adalah sebuah budaya yang sudah berlangsung lama di Indonesia.  Acaranya  biasanya memanjatkan do'a keselamatan dan diakhiri makan bersama.Selamatan menandakan keunikan Islam di Indonesia. Meski sudah ada dan  dijalankan  sebelum  Islam berkembang  diIndonesia,  selamatan tetap bukanlah bentuk baru dalam  ritual Islam. Selamatan sebagai kembang sari peradaban Islam di Indonesia, sesungguhnya  punya  nilai yang agung  dan sangat  dibutuhkan  oleh  manusia.
    Kata selamatan  sebagaimana  banyak  bahasa  Indonesia lain berasal dari  bahasa  sarapan,  Arab, salamah  yang  berarti  selamat, tidak dalam berbahaya.
    Selamatan sendiri, meski sering dikaitkan dengan tradisi  sebelum  Islam datang  dalam   berbagai bentuknya, ruwahan, suronan dan  sebagainya  tetaplah  tidak  melanggat  syari'at  Islam  itu  sendiri.
Bahwa ada bentuk-bentuk yang  sinkretisme  atau  akulturasi  budaya  yang belum memisahkan atau meninggalkan  sama  sekali  unsur-unsur  animism  seperti  kepercayaan- kepercayaan ruh, mungkin masih ada, mengingat  itu semuanya tidak melulu berasal dari   dinamisme  dan  animism.  Misalnya setelah   dua  kepercayaan  itu  dan  sebelum  Islam  datang,  ada  agama  yang  dipeluk  oleh   orang
Indonesia  yaitu  Hindu dan Budha. 
      Namun selamatan sendiri adalah sesuatu yang tidak dilarang  dalam Islam dan  mempunyai  titik temu dalam perbuatan-perbuatan baik yang dianjurkan dalam Islam. Terkait  dengan itu, jika melihat perayaan atau adat istiadat atau selamatan di Indonesia maka ada beberapa kategori yaitu :
      Selamatan biasanya dilakukan dalam berbagai bentuk dan penanda :
1. Selamatan karena kelahiran, kematian dan pernikahan
2. Selamatan karena adanya suatu peristiwa yang berkaitan dengan hari besar Islam
3. Selamatan karena mempunyai barang-barang baru atau peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya.
www.ensiklopediaislamnusantara.kemenag.com



Selamatan versi budaya Jawa Sunan kalijaga
ejawantahnews.blogspot.com  


B. Makna  simbolis selamatan dan ritual dalam Islam Jawa
                 Dalam tradisi Islam Jawa, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan manusia, rata-rata mereka  mengadakan  ritual  selamatan  atau  wilujengan  (memohon  keselamatan  dan  kebahagiaan dalam hidup). Dengan memakai berbagai benda-benda makanan sebagai simbol penghayatannya atas hubungan diri dengan Allah SWT. Berikut penulis sajikan berbagai makna simbolis dari  tradisi  ritus selamatan tersebut. (K.H. Muhammad Soklihin 2010:49).

 Makna Simbolik dibalik "Sesaji ( sedekahan dan selamatan)"  ritual dalam Islam Jawa
                 Bagi   masyarakat  muslim  Jawa,   ritualitas   sebagai  wujud   pengabdian   dan  ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk  simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna yang mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengewatahan dari penghayatan  dan  pemahaman  akan  "realitas yang tak  terjangkau"  sehingga  menjadi  "yang sangat dekat".  Dengan  simbol-simbol  ritual  tersebut,  terasa  bahwa  Allah  selalu  hadir  dan selalu terlalu terlibat "menyatu" dalam dirinya. Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa  dirinya sebagai manusia merupakan tajjali, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan.
                Simbol-simbol   ritual   tersebut   diantaranya   adalah  umbarampe  ( piranti  dalam  bentuk makanan),  yang disajikan dalam  ritual  selamatan  (wilujengan),  ruwatan  dan  sebagainya.  Hal  itu merupakan  aktualisasi  dari  pikiran,  keinginan  dan  perasaan  pelaku  untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.  Upaya  pendekatkan  diri melalui ritual  sedekahan,  kenduri,  selamatan dan jenisnya tersebut,   sesungguhnya    adalah   bentuk   akumulasi   budaya   yang  bersifat  abstrak  (Endraswara, 2003:195). Hal itu terkadang juga dimaksudkan sebagai upaya negosiasi spiritual, sehingga segala hal ghaib yang dinyakini berada diatas manusia tidak akan menyentuhnya secara negatif.


 
 Warga Desa Balak Gelar Ritual Tumpeng Sewu
www.kabarbanyuwangi.info.


                  Ada sebuah hadits shalih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dikemukakan, minyak wangi sejak zaman Rasulullah digunakan sebagai salah satu sarana penyembuhan, 
                 "Diriwayatkan  oleh  Anas r.a. katanya : Sesungguhnya Nabi SAW pernah datang kerumah Ummu  Sulaim  dan ingi beristirahat yakni tidur siang dirumahnya.  Ummu  Sulaim  lalu  meletakkan hamparan dari kulit sebagai  alas  tidur  Nabi.  Manakala  disaat  tidur  itulah  baginda  mengeluarkan banyak  keringat. Ummu  Sulaim  lalu  mengumpulkan  keringat  tersebut  kemudian  mencampurnya dengan minyak wangi dan memasukkan kedalam botol-botol  kecil.  Kemudian  Nabi SAW  bertanya kepada  Ummu  Sulaim :  "Apa ini?"  Ummu  Sulaim  menjawab :  "keringat  engkau  Ya Rasul.  Aku mencampurnya dengan minyak wangiku." (Muttafaqun 'Alaih, Al-Bayan no.1363).
                 Menurut tafsir hadits,   Ummu Sulaim menggunakan campuran minyak wangi dan keringat Rasulullah  itu  untuk  mengobati anak-anak  yang  sakit. Hadits tersebut memberikan makna penting, terutama tentang dua hal ;
1. Bahwa   penggunaan   minyak   wangi   sebagai   sarana   ritual   (  yang   dalam  hadits  itu  adalah penyembuhan).  Sudah  dilakukan  sejak  zaman  Nabi Muhammad pada abad ke-7 M dan Rasulullah mengiyakan.
2. Ummu Sulaim bertabarruk dengan keringat Rasulullah.  Hal  memberikan  gambaran tegas, bahwa tradisi tabrruk kepada orang-orang shalih dan  para wali  sebagaimana  sangat  disukai  oleh kalangan mistik dan sufi Islam Jawa, oleh Rasulullah tidak dilarang.
www.ritualdantradisiislamjawa.info.com

C. Tatacara Selamatan
          Bagi orang bersalah,  prosedur  penyembelihan  dalam  tulisan  ini,  rasa  malu  dianggap  suci, disucikan  (sakral)  dan  oleh  wahyu  yang  luar biasa, karena hal itu menghubungkan rapetnya dengan kejadian kelahiran, dari kelahiran hingga kematian.
1. Dengan  kelahiran  bayi  itu,  bayi  itu  dianggap  sebagai  pemberian Tuhan, pertama-tama tempat kelahiran  Jawa,   yang   berarti   seorang  pembawa  pesan.  Ini  adalah  utusan  dunia,  yang  memb-
eri kehidupan di dunia (khalifah).
2. Setelah  bayi  dewasa  dan bertemu  jodhonya,  bersabarlah  dengan  bantuan  bayi. Ini berarti kait, gesekan, gesekan pendapat, karena utusan itu lebih dari satu. Yang satu dan yang lainnya tidak sama, tetapi  ada  sifat  buruk,  karena  yang  satu  adalah  wanita, tetapi yang lain adalah pria. Namun, jika mereka harus menjadi jojdohnya, kedua belah pihak setuju, diwariskan ke sudut pandang, yang berarti: itu  bukan  baut,  lelucon dan lelucon.  Padahal,  keduanya  telah  dimasukkan  dalam  penentuan. Itu adalah  sebuah  berkah, itu adalah sebuah lelucon. Itu berarti: Keduanya milik mereka, mereka layak.
Tidak aneh bahwa upacara pelayan adalah cara hidup baru,  yang menghubungkan  sejarah orang tua, yang  berarti  koneksi  pertama.  Karena  itu,  dalam  upacara  menantu perempuan, tempat ritual dan upacara sakral samurwut. 
3. Upacara ketiga adalah ketika utusan itu menyerahkan Anda otoritas Tuan Purbaningrat, diwariskan oleh ma-ga-ba-tha-nga. Mengundurkan diri saya, minta wakil Anda


Adat Istiadat Suku Jawa

upacara tedak sinten. www.nyonyamelly.com.


       Berbeda  dengan  naskah  Wedhatama,  karya  Mangkunagara  IV juga dikaitkan dengan wayang Pangkur,  yang  berupa:  Kejahatan  pembebasan,  kenikmatan  mardi  siwi, pengetahuan mulia orang Jawa, agama agama.
      Yang pertama dan ketiga dari Ki Ag. Meneliti penerapan Fiber indikasi  Kawat Wedhatama: Penting  untuk  dicatat  bahwa biji harus menghilangkan nafsu makan. Jika itu tidak terjadi maka itu akan baik untuk benih.
      Karena  itu  sangat bagus. Ketika datang ke penyemaian, berhati-hatilah untuk tidak merasa sadar diri,   karena   keinginannya   akan  mengecewakan,  moncong  ke atas  berikutnya  akan berani  bagi orangtua mereka.
      Ki  Ag.   Periksa   nasihatnya:   Jika  Anda  ingin  memiliki  seorang  putra,  yang  tersentuh  oleh pengetahuan orang tua, pelajari pengetahuannya: 
www.tatacaraselamatan.com.

D. Daftar Pustaka

1). KH. Muhammad Sholikhin, Narasi. 2010. Ritual dan Tradisi Islam Jawa. Yogyakarta : Anggota IKAPI
2). Kamaruudin Amin, M.Asskal Salim. GP.2018 Ensiklopedia Islam Nusantara. Jakarta Pusat : Kementrian Agama RI
3). KAT SOENARTO POERBOSOE HARDJO, SUTONO. 1998 Tata Cara Slametan. Surakarta



www.sejarahindonesiasmada.com




















              














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Selamatan

A. Pengertian Selamatan     Selametan adalah sebuah budaya yang sudah berlangsung lama di Indonesia.  Acaranya  biasanya memanjatkan ...